SINYALBEKASI.COM. JAKARTA, — Lebih dari 200 siswa SMKN 40 Jakarta Timur mengikuti pembekalan 4 Pilar Kebangsaan yang digelar pada hari Jumat, 09 Januari 2026 di aula SMKN 40 Jakarta Timur. Nilai-nilai kebangsaan kembali ditanamkan, bukan hanya sebagai slogan atau hafalan semata, melainkan sebagai kesadaran yang diharapkan bertumbuh dan mengakar dalam kehidupan generasi muda
Pembekalan disampaikan oleh Dewi Suspaningrum, Jurnalis Senior dan Praktisi Komunikasi, serta Alumni Lemhannas Pelatihan TOT PPNK Angkatan 222. Dewi menekankan bahwa pemahaman kebangsaan wajib bersentuhan langsung dengan realitas yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari. “Empat Pilar Kebangsaan tidak boleh berhenti hanya sebagai teori. Namun nilai-nilainya harus hidup dalam sikap, pilihan, dan keberanian generasi muda dalam menghadapi persoalan bangsa, terutama dalam dunia digital seperti saat ini” ujar Dewi di hadapan para siswa, dengan semangat.
Kegiatan pembekalan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Kepala Sekolah SMKN 40 Jakarta Timur, Jumanta Hamdayama, yang menegaskan pentingnya pembekalan wawasan kebangsaan bagi siswa sekolah kejuruan. Menurut Jumanta, dunia kerja membutuhkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga berkarakter kuat. “Kehadiran SMK berfungsi untuk menyiapkan keterampilan, tetapi karakter kebangsaan merupakan fondasi. Pembentukan karakter anak bangsa adalah dasar utama, tanpa hal ini, keahlian akan kehilangan arah,” kata Jumanta dalam sambutannya.
Pembekalan berlangsung lebih dari dua jam, sejak pukul 13.00 WIB hingga 15.30 WIB, dengan suasana dialogis dan partisipatif. Materi yang disampaikan mencakup Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta penjabaran Bhinneka Tunggal Ika. Materi disampaikan dengan pendekatan kontekstual dengan contoh-contoh yang terjadi di keseharian siswa.
Antusiasme peserta terlihat jelas saat sesi tanya-jawab. Para siswa secara kritis mengangkat berbagai isu aktual, mulai dari kasus-kasus korupsi, kriminalitas yang terjadi di masayarakat yang memojokkan rakyat kecil bahkan pembalakan liar, hingga kerusakan lingkungan yang berdampak pada bencana longsor dan banjir di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, serta sejumlah daerah di Pulau Jawa.
Menanggapi antusiasme para siswa, Dewi berpendapat bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut mencerminkan kegelisahan sekaligus kepedulian generasi muda alias Gen-Z terhadap masa depan bangsa. “Ketika siswa berani bertanya tentang kasus-kasus korupsi dan kerusakan lingkungan, itu menandakan mereka tidak apatis. Justru itu bukti bahwa mereka peduli. Tugas kita yang utama adalah mengarahkan kepedulian itu, agar tetap berpijak pada nilai-nilai kebangsaan dan terus menyuarakan kebenaran dan keadilan bagi masyarakat,” ujarnya.
Sesi diskusi yang berlangsung lebih dari satu jam bahkan dirasakan belum cukup untuk menampung antusiasme peserta. Sejumlah siswa masih ingin terus menggali lebih dalam tentang peran generasi muda dalam mencegah korupsi, menjaga kelestarian lingkungan, serta bagaiman bisa berperan dalam mengamalkan nilai 4 Pilar Kebangsaan di ruang nyata maupun digital.
Pembekalan ini diharapkan menjadi ruang awal bagi para siswa SMKN 40 Jakarta Timur untuk memahami bahwa nilai kebangsaan bukan sekadar wacana, melainkan pedoman dalam bersikap dan bertindak. “Bangsa ini akan ditentukan oleh pilihan-pilihan kecil generasi mudanya hari ini. Dari kejujuran, kepedulian, hingga keberanian menolak ketidakadilan serta aspirasi menuntut kebenaran ,” tutur Dewi mengakhiri pembekalan.
Melalui kegiatan ini, nilai-nilai 4 Pilar Kebangsaan diharapkan tidak berhenti di ruang aula, tetapi terus hidup dan diterapkan dalam keseharian siswa di sekolah, di keluarga, dan di tengah masyarakat. 4 Pilar Kebangsaan tidak sekedar diajarkan, tetapi ditanamkan. Dari dialog yang jujur dan kegelisahan yang nyata, lahir harapan bahwa generasi muda tidak hanya cakap secara keahlian, melainkan juga teguh menjaga nilai kebangsaan dalam setiap pilihan hidupnya. (Unt/DEWI SUSPA).


